Tampilkan postingan dengan label Solokuro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Solokuro. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Maret 2015

Berikut Peluang Usaha Saat Musim Panen Tiba

Alhamdulillah Masyarakat desa kita berada pada saat-saat yang paling ditunggu yaitu Masa Panen, ada yang panen Jagung, Kacang, Padi dan Lainnya. dimasa seperti inilah transaksi perekonomian meningkat perputaran uangpun akan lebih tinggi dari biasanya. hanya sedikit dari warga yang tau peluang Bisnis dibalik masa panen seperti ini.

Karena itulah Blogger Solokuro mencoba memberikan informasi tentang Peluang Usaha yang menguntungkan di masa-masa panen seperti ini. apa saja itu berikut ulasan kami:

1. Pengepul Hasil Panen
Hasil panen masyarakat solokuro tahun ini sangat meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya, terutama pada Panen Jagung hal ini disebabkan begitu luasnya penambahan lahan yang digarap di "kontrak" hutan. ini akan jadi peluang bisnis yang menghasilkan dengan menjadi pengepul "bakol" jagung dan hasil panen lainnya.

2. Jual Bibit
Setelah musim panen tentunya warga akan segera melakukan penanaman kembali pada lahan mereka, nah dengan luasnya lahan warga tentu kebutuhan bibitpun akan sangat tinggi.

3. Jual Sak atau Karung
sak atau karung atau yang biasa disebut oleh warga "blangse" adalah salah satu barang yang diburu oleh masyarakat, tentunya ini akan jadi peluang bisnis yang menguntungkan juga,

4. Pasilan 
Pada saat musim panen seperti ini permintaan Pasilan dan Buah-buahan akan meningkat sampai 100% ini tentu akan jadi peluang Rizki yang lumayan juga, karena permintaan yang meningkat terkadang pedagang lama kuwalahan untuk memenuhi kebutuhan sehingga peluang ini juga dimanfaatkan oleh pedagang luar desa untuk mengais rupiah, disamping pasilan ada juga kebutuhan untuk makan malam, dikarenakan warga sudah capek dari sawah maka kebanyakan ibu-ibu lebih suka beli dari pada masak sendiri untuk makan malam keluarga.

demikian beberapa peluang usaha di masa panen yang bisa admin uraikan, tentunya masih banyak peluang buat mengais rupiah selain item yang
tersebut di atas

Semoga Sermanfaat

Selasa, 10 Maret 2015

Dolanan Yang Di Telan Zaman

Oncong-oncong Golong
Muni merak muni sapi
Golili pathing grondhel
Asu manak jare kephel
mii…kk mbek beggar siji

siiiuuuuup kolek tape..
siuuuup kolek menyok…
.

Sebuah lagu dari zaman dahulu. Lagu itu penuh kenangan dan biasa dinyanyikan orang pada waktu kita masih kecil. Rasanya lagu-lagu dolanan kini telah ditelan zaman. Jarang kita jumpai kembali dolanan atau permainan anak yang mampu membantu perkembangan anak selain dari bangku sekolah.

Padahal, dunia itu sekolah kami, semesta itu laboratorium kami, kehidupan itu pustaka kami, siapa pun itu adalah guru kami. Artinya, kita bisa mendapat pengajaran bukan hanya dari bangku sekolah, melainkan juga dari lingkungan di sekitar kita, bahkan ketika kita bermain.

Ada nilai edukasi tersendiri ketika kita mengetahui makna-makna dolanan. Ada ratusan permainan yang jarang lagi bisa kita temui. Padahal, setiap permainan juga mempunyai makna tersendiri. Seni permainan anak-anak nasibnya tidak semanis dulu. Kini sulit kita jumpai kegembiraan anak-anak yang berdendang jamuran, soyang, atau cublak-cublak suweng kala rembulan bersinar terang.

Anak-anak lebih suka menonton televisi daripada keluar rumah, bermain di bawah sinar mentari. Ini gejala memprihatinkan. Setidaknya peristiwa semacam itu bagi generasi tua hanya akan menjadi kenangan. Sebab, generasi selanjutnya tidak lagi melakukan permainan kreatif tersebut.

Perkembangan seni permainan bak berjalan mundur sehingga kian tidak dikenali anak-anak masa kini. Sebenarnya konsep dalam sebuah permainan itu berawal dari peninggalan sejarah sejak Ki Hajar Dewantara mulai memperkenalkan konsep ”sistem among” yang menggunakan dolanan anak (bahasa Belanda: kinder spellen) sebagai sifat kodrat semua anak untuk sarana pendidikan. Jadi, semua dolanan bertujuan membangkitkan rasa gembira dan kemerdekaan jiwa sang anak.

Lima nilai

Menurut Ki Hadi Sukatno, salah seorang penerima penghargaan seni dari Pemerintah Indonesia pada 6 April 1981, dolanan anak tradisional dapat dibagi menjadi lima nilai.

Pertama, mainan yang bersifat menirukan perbuatan orang dewasa, misalnya pasaran, mantenan, dayoh-dayohan, membuat rumah dari batu dan pasir, membuat pakaian boneka dari kain perca atau dari kertas, serta membuat wayang dari janur atau rerumputan. Saat permainan ini berlangsung, saking asyiknya anak-anak merasakannya sebagai perbuatan yang sungguh-sungguh.

Kedua, permainan untuk mencoba kekuatan dan kecakapan. Permainan ini tanpa disadari anak-anak bertujuan melatih kekuatan dan kecakapan jasmani. Permainan itu misalnya tarik-menarik, berguling-guling, bergulat, berkejar-kejaran, gobak sodor, gobak bunder, bengkat, benthik-uncal, jethungan, genukan dengan gendongan, obrok, tembung, dan bandhulan. Jenis permainan ini masih banyak lagi yang tak dikenal oleh generasi masa kini.

Ketiga, permainan melatih pancaindera. Dalam permainan ini termasuk latihan kecakapan meraba dengan tangan, menghitung bilangan, memperkirakan jarak, menajamkan alat penglihatan dan pendengaran, serta menggambar.

Permainan semacam itu misalnya gatheng, dakon, macanan, sumbar-suru, sumbar-manuk, sumbar-dulit, kubuk, adu-kecik, adu-kemiri, main kelereng, jirak, bengkat, pathon, dekepan, menggambar di tanah, main petak umpet, main bayang-bayangan, dan serang-serongan. Permainan jenis kedua dan ketiga ini erat hubungannya dengan aktivitas olahraga.

Keempat, permainan dengan latihan bahasa, yaitu permainan anak-anak berupa percakapan. Setiap kali anak-anak berkumpul biasanya selalu terlibat dalam perbincangan tentang dongeng, cerita pengalaman, atau teka-teki yang menumbuhkan fantasi.

Biasanya tampil seseorang dengan teka-teki yang kemudian anak lainnya mengikuti sehingga tidak hanya bersikap pasif menebak, tetapi juga membalas mengajukan teka-teki sendiri. Ini tidak terbatas pada teka-teki yang sudah lazim, seperti pitik-walik saba kebon dan pong-pong bolong, tetapi bisa timbul teka-teki buatan sendiri yang orisinal. Di sinilah tumbuh kembangnya kecakapan bahasa dan kecerdasan otak.

Kelima, permainan dengan lagu dan wirama. Membicarakan ”dolanan anak” dengan lagu dan gerak wirama sangatlah luas dan banyak sekali ragamnya, misalnya jamuran, cublak-cublak suweng, bibi tumbas timun, manuk-manuk dipanah, tokung-tokung, blarak-blarak sempal, demplo, bang-bang-tut, pung-irung, bethu-thonthong, kidang-talun, dan ilir-ilir.

Pada zaman modern, permainan anak tradisional atau yang di daerah berbahasa Jawa biasa disebut dolanan bisa dikatakan terlupakan. Anak-anak sekarang lebih suka bermain PlayStation, internet, atau game online, yang kadang justru berdampak negatif terhadap perkembangan kepribadian mereka.

Anak-anak menjadi malas bergerak, bahkan ada beberapa yang ekstrem nekat membolos sekolah gara-gara kecanduan game.

Permainan tradisional pada umumnya mempunyai arti dan makna moral atau sikap yang baik terhadap perkembangan anak usia dini. Oleh karena itu, kita perlu menjaga dan melestarikan permainan tersebut.

Selain sebagai pelajaran moral terhadap anak, permainan tradisional merupakan warisan kesenian bangsa Indonesia yang mempunyai nilai tinggi. Jangan sampai kesenian tersebut justru dipelajari, bahkan diklaim sebagai milik budaya bangsa lain.

Kesenian Kentrung Solokuro

Bapak Khusairi bermain Kentrung Sumber : Dokumentasi Pribadi (2014)

Pertunjukan Kentrung bisanya dihelat dalam acara hajatan pernikahan, sunatan, salamatan dan syukuran. Sehingga kesenian ini begitu dekat dengan masyarakat. Dalam teori fungsi teater tradisional yang disampaikan Kasim Ahmad (2006), Kentrung sunan Drajat memenuhi fungsi teater tradisional yaitu :

1. Kentrung Sun an Drajad Sebagai Hiburan
2. Fungsi Kentrung Sunan Drajat sebagai Sarana Pendidikan, Komunikasi dan Kritik Sosial
3. Teater Tradisional sebagai Alat Ekspresi Seni
4. Kentrung sunan Drajat Sebagai Alat Dokumentasi Hidup

Ditinjau dari persebaran dari Kesenian Kentrung Sunan Drajat, prsebaran meliputi daerah Tuban, Lamongan, Gresik dan Surabaya. Promosi yang dilakukan yaitu getok tular yaitu dari mulut ke mulut. Pertunjukan yang di gelar di bebagai tempat menjadi media promosi mengenalkan kesenian ini kepada masyarakat yang belum mengenal kesenian ini dengan baik. Media lokal yang ada di Jawa Timur juga berperan dalam pendokumentasian kesenian Kentrung Sunan Drajat. Media telah sejak lama mendokumentasikan pertunjukan kentrung Sunan Drajat. Data diperoleh dari dokumentasi bapak Khusari yang diantaranya artikel di harian radar Bojonegoro edisi Selasa, 6 November 2001 “ Kesenian Desa yang Menembus Kampus”. Selain dimuat di koran Kesenian Kentrung Sunan Drajat pernah dimuat dalam majalah Cakrawala,dan yang terakhir dimuat dalam majalah Gerbang Desa pada tahun 2014.
 
Dewan kesenian Lamongan setiap tahun selalu mengundang pertunjukan Kentrung dalam acara Hari Jadi Kota Lamongan, yaitu satu tahun sekali. Kentrung  juga pernah menjadi delegasi kebudayaan dari Lamongan yang diikut sertakan dalam lomba Kentrung Jawa Timur.


KESIMPULAN 

Kesenian Kentrung Sunan Drajat sebagai pengatur keseimbangan sosial dimasyarakat yaitu karena Kentrung Sunan Drajat memiliki fungsi yang penting dalam masyarakat. Kontribusi kesenian ini sebagai penyeimbang sosial dalam masyarakat diantarannya adalah sebagai media penyampai nilai agama Islam dan budaya yang harus tetap ada dalam masyarakat Solokuro . Kesenian Kentrung sunan Drajat dapat bertahan di era transformasi di Desa Solokuro dipengaruhi masyarakat pendukungnya sebagai publik teater. Sebagai publik teater masyarakat Solokuro memiliki karakteristik yang mendukung kesenian Kentrung tetap hidup. Karakteristik masyarakat Solokuro dari segi agama didominasi oleh masyarakat Islam. Masyarakat Solokuro yang mayoritas beragama Islam sangat mendukung Kentrung Sunan Drajat untuk terus dihidupkan karena Kesenian Kentrung berisikan cerita sejarah Islam di pulau jawa dan ajaran Islam yang dianggap sangat penting oleh masyarakat. Kesenian Kentrung menjadi penting dihidupkan di desa Solokuro karena kesenian ini merupakan media dakwah yang sangat efektif. Sebagai media dakwah, kentrung dinilai efektif karena sesuai dengan kultur masyarakat setempat yang mayoritas adalah masyarakat etnis Jawa.
 

iklan

 

Copyright © BLOGGER SOLOKURO. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com